News

MANAJEMEN BUDIDAYA UDANG TERINTEGRASI
(Integrated Shrimp Culture Management)
Belajar dari kesuksesan PT. CPB Charoen Pokphand Group Lampung

Oleh : Kurniawan

Budidaya Udang pernah mencapai puncak kejayaan di negeri ini selama kurun waktu satu dekade (1985-1995) dimana pada saat itu banyak kawasan pesisir pantai utara Jawa telah di konversi menjadi lautan tambak yang menjanjikan keuntungan besar bagi para pengusaha budidaya. Akan tetapi sejalan dengan perkembangannya ternyata selama itu pula kerusakan pesisir/abrasi pantai, carut marutnya tata guna lahan, hilangnya hutan Mangrove/Bakau , pencemaran ekosistem laut, dan penyebaran penyakit terus terjadi yang diduga sebagai penyebab bangkrutnya sistem budidaya udang selama satu dekade tersebut. Beberapa studi yang dilakukan di beberapa negara produsen udang (Studi Cost Benefit Analysis) telah menunjukkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pemulihan lingkungan dan biaya sosial jauh lebih besar daripada yang diperoleh dari pertambakan udang. Pertambakan udang telah menghilangkan ekosistem Mangrove/Bakau dan fungsinya, kehilangan keanekaragaman hayati, sumber ekonomi sub-systence, pencemaran air tanah dan perairan sekitarnya dan menimbulkan ketegangan sosial (Walhi, 2005), hal ini terjadi karena pengelolaan yang mengabaikan tata guna lahan dan kelestarian lingkungan. Manajemen tambak terintegrasi merupakan salah satu alternatif pengelolaan yang konsen terhadap lingkungan dengan system budidaya yang melakukan pergantian air seminimal mungkin selama masa budidaya berlangsung (Less Water Exchange-LWE) dengan manajemen budidaya yang mutakhir dan ramah lingkungan, teknologi budidaya ini sukses dijalankan oleh PT. Centralpertiwi Bahari Lampung yang menjadikannya Perusahaan Aquabisnis terbesar di Indonesia.

  

PROSPEK BUDIDAYA UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei)
SEBAGAI PENGGANTI UDANG WINDU

Oleh : Kurniawan

Udang putih asli Amerika latin ini saat ini telah dibudidayakan diberbagai tambak di Indonesia, relative tahan terhadap serangan penyakit, maka dianggap udang putih merupakan komoditas perikanan ekonomis tinggi yang memiliki prosfek yang baik untuk dikembangkan dan disinyalir sebagai komoditas pengganti udang windu yang sarat resiko dalam membudidayakannya. Untuk membudidayakan udang ini harus dilakukan persiapan yang matang dan terencana dalam rangka menjaga dan mengatasi masalah klasik budidaya udang yang mengakibatkan kehancuran usaha seperti masalah design dan konstruksi tambak, penyebaran penyakit, pencemaran kualitas air dan sebagainya.

Saat ini Udang Putih (Litopenaeus vannamei) telah dibudidayakan diberbagai negara seperti Equador, Amerika latin , Honduras, Guatemala, Mexico, Texas, Brazil, Venezuela, Hawai, Florida, Columbia, Philipina, China dan Thailand, dan telah memberikan keuntungan setelah membudidayakan udang putih ini. Berdasarkan data yang diperoleh, nilai impor udang Amerika mencapai 2,7 milyar dolar atau sekitar 40% dari total nilai impor seafood Amerika (Elovaara, 2001). Masih dari sumber yang sama, produksi udang global diperkirakan mencapai 900.000 ton/tahun (dari hasil penangkapan dan budidaya) dan hanya 1% dari total produksi perikanan, padahal udang merupakan komoditi unggulan yang diminati pasar.

Beberapa alasan udang putih (L.vannamei) dijadikan spesies alternatif yang harus dikembangkan :

  • Produktivitasnya bagus karena ditunjang oleh SR yang tinggi.
  • Pakan yang diberikan membutuhkan kandungan protein yang lebih rendah dibandingkan dengan pakan untuk udang windu (P. monodon), sehingga harga pakan lebih murah dan biaya produksi dapat ditekan.
  • Lebih mudah dibudidayakan dibandingkan dengan udang windu (P. monodon).
  • Pertumbuhannya cepat hingga mencapai MBW 20 gram, sehingga umur budidaya (DOC) lebih pendek
  • Relatif tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan udang jenis lain.
    Broodstock sudah bisa didomestikasi dan induknya mudah didapat.
  • Lebih toleran terhadap perubahan lingkungan
  • Tahan hidup pada kisaran salinitas yang luas dan bisa tumbuh dengan baik pada salinitas rendah.
  • Rasa udang yang dibudidayakan pada salinitas tinggi memiliki kandungan asam amino bebas lebih tinggi hingga rasanya lebih manis. (Sumber, Ocean institute )

  

 

PERAIRAN: LADANG MINYAK INDONESIA

By : Erlania1)

email: erlania_elleen@yahoo.com / erlania@cria.indosat.net.id

1) Research Center for Aquaculture

 

Krisis ekonomi yang dialami oleh negara kita saat ini berdampak ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Kondisi perekonomian ini tak lepas dari harga minyak dunia yang meningkat tajam. Namun tidak dapat dipungkiri hal ini juga terkait dengan pertambahan jumlah penduduk dunia yang sangat besar, sehingga kebutuhan dunia terhadap BBM pun otomatis ikut meningkat tajam, dan bagaimanapun juga tingkat produksi BBM itu sendiri tidak akan mampu mengimbangi laju pertambahan penduduk. Beberapa pendapat mengatakan bahwa minyak bumi yang tersedia di alam saat ini hanya cukup untuk 50 tahun ke depan, atau pendapat lain mengatakan jika berpikir lebih optimis lagi, minyak bumi masih akan tersedia hingga 100 tahun lagi sampai fosil-fosil penghasil minyak bumi itu sendiri menjadi langka. Akan tetapi dari semua pendapat tersebut artinya tetap sama, yakni minyak bumi hanya akan tersedia bagi beberapa generasi ke depan saja, setelah itu..? Oleh sebab itu diperlukan sumberdaya alternatif yang dapat menggantikan fossil fuel tersebut sebagai sumber energi, salah satunya adalah Algae.

 

Algae adalah organisme bersel tunggal maupun multi seluler yang hidup di perairan dan berfotosintesis dengan bantuan cahaya matahari untuk menghasilkan energi. Microalgae atau yang kita kenal dengan fitoplankton terdiri beberapa divisi yakni : Chlorophyta, Cyanophyta (Cyanobacteria), Chrysophyta, Prymnesiophyta (Haptophyta), dsb. Melihat potensinya, algae merupakan sumber biofuel yang yang keberadaannya sangat melimpah di perairan Indonesia, baik di laut maupun perairan tawar. Luasnya wilayah perairan Indonesia dapat menjadi ladang biofuel yang luar biasa besarnya.

 

Dibandingkan dengan tumbuhan darat penghasil biofuel seperti kelapa, jarak dan kelapa sawit, algae  memiliki lebih banyak keunggulan. Algae yang selama ini sudah diketahui berpotensi sebagai penyerap cemaran organik di perairan, dapat menjadi lebih produktif lagi jika dimanfaatkan sebagai sumber energi. Melalui proses fotosintesis, algae sangat efektif mengkonversi bahan organik dan karbon dioksida (CO2) dari perairan menjadi energi. Selain itu jumlah minyak yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan dengan tanaman sumber minyak lainnya dengan proses yang juga lebih sederhana dibandingakan dengan sumber minyak lainnya. Untuk memperoleh minyak, tidak diperlukan proses penghancuran/penggilingan, tetapi dapat langsung diekstrak dari algae tersebut. Menurut beberapa sumber, jika dibandingkan produksi minyak dari tanaman jarak, kelapa dan kelapa sawit yaitu : 1.413, 2.689 dan 5.950 liter/hektar/tahun. Sedangkan algae mampu memproduksi minyak hingga 100.000 liter/hektar/tahun. Keunggulan lainnya yaitu algae tumbuh di air, jadi tidak perlu melakukan penebangan hutan untuk membuka lahan baru, sehingga tidak membahayakan lingkungan dan sistem rantai makanan di alam. Sampai saat ini sudah banyak dilakukan penelitian terhadap jenis-jenis algae yang digunakan dalam produksi oil-algae di berbagai negara di dunia. Diantaranya yaitu Botryococcus braunii, Nannochloropsis salina, Nannochloris sp., Spirulina sp., Dunaliella tertiolecta, Isochrysis galbana, Tetraselmis chui, T. suecica, Phaeodactylum tricornutum, Euglena gracilis.

 

Penelitian tentang algae sebagai sumber energi sebenarnya bukanlah hal yang baru. Namun selama ini mungkin kurang dilirik, atau bahkan mungkin dianggap tidak akan memberikan “keuntungan” bagi perekonomian negara. Akan tetapi krisis BBM saat ini menuntut perhatian lebih dari pemerintah untuk menginvestasikan “waktu dan tenaga” pada riset dan produksi dari renewable energy ini. Di negara-negara maju sudah sejak beberapa waktu yang lalu mulai mengeksplorasi sumber energi yang satu ini. Bahkan saat ini di Amerika dan Eropa sudah cukup banyak industri energi yang memproduksi oil-algae dalam skala besar.

Melihat perkembangan dan kemajuan teknologi yang begitu cepat, sudah saatnya Indonesia bangkit dari “keterpurukan” perekonomian yang tidak ada habis-habisnya. Sudah waktunya Indonesia menghasilkan sesuatu dari “tangan” sendiri, sehingga tidak perlu lagi harus “serba impor” karena sumberdaya yang dimiliki juga tidak kalah, baik jumlah maupun kualitasnya. Untuk mewujudnkan hal ini mungkin perlu dibangun kerjasama antara Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sebagai “pemilik” dari komoditas ini, dengan instansi-instansi terkait untuk mengembangkan hasil-hasil riset yang sudah ada untuk bisa memproduksi BBM, setidaknya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri, dan juga diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah krisis energi, yang berujung pada krisis perekonomian yang cukup berkepanjangan dan menyengsarakan masyarakat.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.