Publications

PENGARUH SUHU RUANG PENYIMPANAN PADA ROTIFERA INSTAN
(Brachionus rotundiformis) DALAM KEMASAN DENGAN PENAMBAHAN
PAKAN MIKROALGA KONSENTRAT DAN BAKTERI PROBIOTIK

By : Erlania

Dibawah bimbingan Ir. Fifi Widjaja, M.Nat.Res dan Dr. Enan M. Adiwilaga

Abstrak

Keberhasilan kegiatan budidaya perikanan harus ditunjang dengan ketersediaan larva yang berkesinambungan dalam jumlah yang memadai, sehingga diperlukan juga ketersediaan pakan alami larva berupa zooplankton. Salah satu pakan alami larva ini adalah rotifera jenis Brachionus rotundiformis.
Kultur rotifera secara intensif dalam skala besar cukup sulit dilakukan karena membutuhkan penanganan yang baik dan tempat yang cukup luas. Selain itu selama proses produksinya rotifera mudah terkontaminasi oleh bakteri dan protozoa yang dapat menyebabkan penyakit (pathogen) pada larva ikan yang mengkonsumsinya. Kesulitan lainnya adalah dalam proses distribusi rotifera secara komersial karena rotifera sulit menghasilkan telur-kista yang dapat diawetkan seperti halnya Artemia. Oleh karena itu perlu diketahui suatu kondisi optimum yang dibutuhkan untuk kultur rotifera dan penyimpanannya dalam suatu kemasan yang dapat langsung digunakan (instan) sebagai pakan alami larva dalam kegiatan budidaya, sehingga memudahkan dalam proses distribusinya secara luas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh dari suhu penyimpanan dan pemberian pakan mikroalga konsentrat terhadap kelimpahan dan laju pertumbuhan rotifera dalam kemasan, serta melihat pengaruh dari penambahan bakteri probiotik terhadap kualitas air kultur yang pada akhirnya diharapkan suatu kondisi optimum bagi produksi rotifera instan.
Instant Algae (mikroalga konsentrat), menurut Riedel (2002) merupakan pakan bagi larva ikan, udang dan kerang berupa mikroalga dalam bentuk cairan dengan kepadatan sangat tinggi (konsentrat). Dalam Riedel (2002) disebutkan juga bahwa Instant Rotifers adalah rotifera yang ditumbuhkan pada kondisi kultur tertutup, skala besar dan konsentrat (kepadatan tinggi), kemudian dikemas ke dalam “breathable bags” yang memungkinkan pelepasan CO2 dari media dan masuknya O2 dari luar kemasan, sehingga rotifera dapat hidup dalam jangka waktu tertentu. Untuk menjaga agar rotifera tetap hidup dan memiliki kandungan nutrisi yang baik, maka ditambahkan pakan berupa instant algae.
Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu tahap persiapan berupa kultur mikroalgae dan kultur rotifera, sedangkan penelitian utama berupa pengemasan dan penyimpanan rotifera pada suhu kamar (27,5 – 29,5 oC), suhu ruang AC (21,0 – 24,0 oC) dan suhu kulkas/refrigerator (10,0 – 14,0 oC) dengan penambahan pakan mikroalga konsentrat (monospesies & multispesies) dan bakteri probiotik. Parameter yang diukur selama penelitian adalah parameter biologi yaitu kelimpahan rotifera dan parameter fisika-kimia media kultur meliputi pH, salinitas, oksigen terlarut (DO) dan amonia (NH3), yang dilakukan sebanyak empat kali selama penelitian yaitu pada hari ke-0, 4, 9 dan 14. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis regresi dan uji keparalelan untuk melihat pertumbuhan dan penurunan populasi rotifera selama penyimpanan, serta analisis ragam menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dan uji lanjutan berupa uji tukey/beda nyata jujur.
Hasil pengukuran parameter fisika-kimia selama penelitian utama menunjukkan kondisi media yang relatif stabil dan merupakan kisaran optimum bagi pertumbuhan B.rotundiformis. Parameter-parameter tersebut adalah salinitas (27,0-27,7 ppt); pH (7,5-8,0); DO (0,30-3,38 mg/l) dan amonia (0,14-1,90 mg/l).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kelimpahan maksimum tertinggi dari B. rotundiformis baik pada perlakuan monospesies maupun multispesies algae ditemukan pada suhu kamar yaitu sebesar 783 ind/ml (m1) dan 805 ind/ml (M1) yang dicapai pada hari keempat dengan laju pertumbuhan (hari 1-4) masing-masing sebesar 102 ind/hari dan 118 ind/hari. Pada hari terakhir penyimpanan, rata-rata kelimpahan tertinggi untuk perlakuan monospesies ditemukan pada suhu kulkas (m3) yaitu 314 ind/ml, sedangkan untuk multispesies pada suhu ruang AC (M2) yaitu 418 ind/ml. Hal ini berarti bahwa rotifera dapat disimpan lebih lama pada suhu ruang AC dengan pemberian pakan multispesies algae.
Secara keseluruhan, untuk perlakuan suhu ruang penyimpanan dapat dilihat bahwa laju penurunan populasi rotifera terendah terjadi pada suhu kulkas. Hal ini disebabkan karena pada suhu rendah laju metabolisme dan reproduksi rotifera menjadi lebih lambat, sehingga konsumsi pakan dan oksigen lebih banyak digunakan untuk bertahan hidup dan beradaptasi dengan kondisi lingkungannya. Untuk perlakuan pakan, secara umum laju penurunan populasi rotifera pada perlakuan multispesies algae lebih rendah daripada perlakuan monospesies alga. Hal ini disebabkan karena kandungan gizi dari pakan multispesies algae lebih baik daripada monospesies alga, sehingga kemampuan rotifera untuk beradaptasi dan bertahan hidup juga lebih baik.
Dari keseluruhan parameter yang mengindikasikan kelimpahan dan pertumbuhan populasi B. rotundiformis, yang tertinggi ditemukan pada interaksi perlakuan multispesies algae dengan suhu kamar, sehingga dapat dikatakan kondisi optimum bagi penyimpanan rotifera instan yaitu pada suhu kamar, sedangkan pakan yang terbaik adalah multispesies algae (Nannochloropsis sp., Isochrysis sp., Dunaliella sp., Pavlova sp.).

   

 

Potensi Budidaya Kijing Taiwan (Anodonta woodiana) di Waduk Cirata dalam Rangka Pengendalian Cemaran dan Peningkatan Produksi Budi Daya Ikan

1)Erlania,1)Tri Heru Prihadi dan 2)Agus Indra Gunawan

 

1) Research Center for Aquaculture

2)Bogor Agricultural University 

 

 ABSTRACT

 

A study on culture of Kijing Taiwan (Anodonta woodiana) has been conducted in Cirata Reservoir, Cianjur, West Java. The goal was to know culture prospect of this freshwater shellfish beside expected their ability to overcome the environment degradation caused by fish culture waste. Kijing Taiwan is also well known as a high protein animal and as a plankton feeder. This experiment was performed in floating net cage in July – November 2006. The treatments were different culture depth (0 m, 4 m and 8 m) with cluster in  stocking densities (2 kg, 4 kg and 6 kg per container 1.472 cm2). The parameters  measured were growth, survival rate, production and plankton densities in Kijing’s stomach and the waters. The statistics experiment was arranged in cluster randomized design with 3 replicates and BNT test. The most of plankton in Cirata Reservoir was found in Kijing’s stomach. This result indicated that Kijing Taiwan could use plankton from Cirata Reservoir effectively for growth so that it could increase average body weight, beside high survival rate achieve 87,38 – 96,89 %. Stocking densities increased from 2 kg/1.472 cm2 to 6 kg/1.472 cm2 and showed significantly effects on growth and production (caused decreasing of growth and production), but there was no significant effect on survival rate. The best of stocking densitiy was 2 kg/1.472 cm2.  A different culture depth treatment also showed significant effects on kijing’s growth, production and survival rate (caused decreasing of growth, production and survival rate). The best of culture depth for Kijing Taiwan was on 0 m (under waters surface)

 

KEYWORDS : Kijing Taiwan, culture, environment degradation

 

 

Study of Nitrogen Concentration in Sediment of Cirata Reservoir Caused by Floating Net Cage Culture Activity

1)Erlania,1)Tri Heru Prihadi dan 2)Rahmatullah Al Fatih

 

1) Research Center for Aquaculture

2)Bogor Agricultural University

 

 ABSTRACT      

 

Currently, floating net cage  (KJA) increased rapidly in several years. It caused environmental problems like eutrophication by accumulation of excess feed on the bottom and became nitogen. The study goal was to know nitrogen concentration in sediment of Cirata Reservoir caused by KJA activity. It was conducted in June – September 2007. Samples of sediment was taken from 4 locations (inlet, crowded and uncrowded KJA area, outlet) monthly. The parameters measured were ammonium, nitrat, total-N, textures of sediment and pH. The statistics experiment was arranged in cluster randomized design and BNT test. Analysis of the samples got 3 textures of sediment : hard, dirt and sand (hard was the highest composition between 51,23 – 95.50%). Hard texture was supposed had ability to make a bond with ammonium better than nitrat. Ammonium, nitrat and total-N concentration increased on outlet location. Ammonium concentration in sediment was higher than nitrat.

 

KEYWORDS : nitrogen, sediment, floating net cage

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.